Monday, July 26, 2010

Menembus Batas

SERIAL FILM DOKUMENTER REFLEKSI “MENEMBUS BATAS”


Tak dapat dipungkiri bahwa hingga saat ini penyandang cacat masih mengalami diskriminasi dalam berbagai bentuknya. Mulai dari fasilitas umum dan fasilitas sosial yang tidak aksessibel, minimnya sarana pendidikan yang sesuai bagi penyandang cacat, hingga pengucilan penyandang cacat oleh keluarga sendiri, semua itu masih terus terjadi hingga hari ini. Semua diskriminasi tersebut harusnya tak perlu lagi terjadi bila seluruh elemen masyarakat mulai dari kalangan eksekutif, legislatif, hingga individu-individu memiliki kesadaran bahwa kalangan penyandang cacat juga memiliki hak yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.

Konvensi PBB mengenai Hak-hak Orang dengan Disabilitas (UN Covention on the Rights of People with Disabilities) memandang disabilitas sebagai kondisi dua arah yang tercipta karena adanya “kecacatan” pada diri seseorang dan sikap masyarakat atau kebijakan pemerintah yang tidak mengakui atau mengakomodasi kecacatan tersebut, sehingga kecatatan itu menjadi disabilitas. Jika masyarakat atau pemerintah mengakomodasi setiap keterbatasan manusia, maka kecacatan menjadi kurang relevan dalam menentukan tingkat partisipasi siapapun di masyarakat.

Guna mempromosikan kesetaraan hak bagi para penyandang cacat, DAAI TV bekerja sama dengan Pusat Kajian Disabilitas, FISIP Universitas Indonesia memproduksi serial film dokumenter “Menembus Batas.” Serial film dokumenter “Menembus Batas” adalah 13 episode film dokumenter yang mengisahkan perjuangan para penyandang cacat yang berhasil mematahkan mitos bahwa kecacatan adalah identik dengan ketergantungan, tidak produktif dan tidak berguna.

Subyek yang ada dalam episode film dokumenter “Menembus Batas” adalah penyandang cacat yang berhasil membuktikan bahwa kecacatan hanyalah satu kondisi yang berbeda, namun tidak membuat hidup mereka menjadi inferior dan tergantung pada rasa kasihan orang lain. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang telah berhasil keluar menembus batas, menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, bahkan berkontribusi positif bagi kemajuan masyarakat.

Serial film dokumenter “Menembus Batas” akan ditayangkan di Program Refleksi DAAI TV setiap hari selasa, pukul 20.30 Wib mulai tanggal 3 agustus sampai dengan 28 september 2010.

Semoga apa yang telah dihasilkan dapat menjadi contoh tayangan media televisi yang berbobot, cerita yang menggerakkan hati dan pikiran, serta dorongan untuk “menembus batas” dari berbagai keterbatasan.


TENTANG DOKUMENTER REFLEKSI DAAITV

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Barangkali ungkapan inilah yang melahirkan pemikiran bahwa setiap pengalaman seseorang, siapapun dia tanpa memandang status ekonomi, pangkat, ras, agama, kondisi fisik, dan lainnya selalu pantas untuk dibagikan kepada orang lain. Berbagi pengalaman adalah sebuah pelajaran yang mampu melintasi berbagai batasan-batasan, dan salah satu media yang paling tepat untuk menyampaikan pesan itu adalah lewat tayangan film dokumenter.

Ketika sebuah film dokumenter ditayangkan melalui media televisi, tentu bukan sekedar pengisi jam tayang. Ada pesan-pesan yang diharapkan akan sampai kepikiran dan lubuk hati pemirsanya . Seperti nama yang dipilih, Refleksi berharap pemirsa DAAI TV
mengerti bahwa setiap hari, setiap waktu, bahkan selama masih ada kehidupan di muka bumi, akan tetap ada semangat positif yang lahir dalam berbagai situasi. DAAI TV berharap pemirsa program Refleksi dapat bercermin dari pengalaman orang lain yang diceritakan, lalu semangat dan jiwa positif akan menular pada mereka.

Demi misi menyebarluaskan semangat dan jiwa positif, dalam setiap proses produksi yang dimulai dari diskusi tema, riset, rencana cerita, pengambilan gambar, hingga proses editing, tim produksi dokumenter Refleksi DAAI TV mengerjakannya dengan hati. Hal inilah yang selalu ditekankan agar sajian film dokumenter DAAI TV mampu hadir dengan muatan positif serta dapat menyentuh hati para pemirsa.


TENTANG PUSAT KAJIAN DISABILITAS FISIP -UI

Pusat Kajian Disabilitas (PUSKA Disabilitas), FISIP Universitas Indonesia didirikan pada tahun 2006 untuk membantu salah satu universitas terbesar di nusantara ini menjadi perguruan tinggi yang inklusif. PUSKA Disabilitas memahami betapa banyak calon mahasiswa yang berbakat dan mempunyai kemampuan yang sangat memadai tetapi tidak mau atau takut mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri seperti UI. Selain fasilitas fisik yang mungkin belum memadai, masih ada pula sikap dan sistem pendaftaran dalam kampus yang belum membantu. Keberadaan PUSKA Disabilitas membantu memberikan fasilitas (misalnya braille) atau bantuan mahasiswa relawan untuk mempermudah calon mahasiswa menjalankan tes yang diperlukan.

Secara khusus tujuan PUSKA Disabilitas adalah: Melakukan kajian kritis mengenai berbagai kerangka kebijakan nasional dan jika perlu melakukan reformasi kebijakan dan hukum; Merancang dan menawarkan mata kuliah di bidang disabilitas di tingkat S1; Memberdayakan orang dengan disabilitas agar lebih mandiri, terlibat dalam memperjuangkan hak-haknya, dan bangga dengan kelebihan-kelebihannya; Mengembangkan jaringan advokasi.


EPISODE 1
"DEMI GORESAN KAPUR"

Rudi Manggala Saputra adalah seorang tuna daksa yang menjadi guru perintis Sekolah Dasar di perkebunan teh Cikoneng, Jawa Barat. Pada awalnya Rudi mengajar sendirian tanpa digaji. Kecacatan yang disandangnya tak dijadikan sebagai alasan untuk tidak berbagi pada sesama. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia menjadi tukang jaga WC dan juru parkir di daerah wisata Puncak. Sebagian dari uang yang dia peroleh bahkan dipakainya untuk membeli kapur tulis.



Hampir seluruh murid SDN Cikoneng adalah anak dari buruh pemetik teh. Tak sedikit diantara mereka yang berasal dari kampung yang jauh dari SDN Cikoneng. Meski untuk sampai ke sekolah mereka harus berjalan kaki atau menumpang truk perkebunan yang kebetulan melintas, mereka tetap giat belajar. Rudi dan murid-muridnya memiliki satu semangat yang sama, bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan




EPISODE 2
"PERLAWANAN SANG PENGHIBUR"



Terlahir sebagai penyandang cacat tak membuatnya merasa lebih rendah dibandingkan orang lain yang secara fisik normal. Apih Limin yang akrab disapa Limin Buntung awalnya hanya salah seorang pemain di satu kelompok seniman topeng Betawi. Namun didorong oleh semangatnya untuk lebih mandiri, tahun 2005 ia mendirikan Grup Topeng Betawi Sinar Jaya. Dengan ketekunannya Grup Topeng Betawi Sinar Jaya yang dirintisnya, kini mampu menghidupi Limin dan keluarganya, serta menjadi sandaran ekonomi tak kurang dari 30 orang anggotanya.




EPISODE 3
"MEMANDU LANGKAH KECIL"

Penolakan demi penolakan yang dialaminya karena keterbatasannya sebagai tuna netra, tak membuatnya patah semangat. Jenjang pendidikan S1 hingga S2 dilaluinya dengan tidak mudah. Bagi Fitri Nugrahaningrum, pendidikan adalah satu-satunya jalan yang dapat menerangi langkahnya.



Namun jenjang pendidikan tinggi yang diraihnya tak ia nikmati untuk diri sendiri. Keprihatinan terhadap pendidikan yang sulit diakses oleh anak-anak dari keluarga miskin di sekitarnya, mendorong Fitri mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an dan kelompok belajar bagi anak-anak dari keluarga miskin. Bermula dari 6 orang anak yang ia bimbing sendiri, kelompok belajar ini sekarang melibatkan puluhan relawan yang mengajar lebih dari 100 anak.




EPISODE 4
"AKU MELIHAT SUARA"



“Tak Ingin Menyerah” tiga kata ini adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana semangat Meutia. Meutia adalah seorang tuna rungu yang karena kegigihannya mampu kuliah di Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia. . Keterbatasan yang dimiliki tak membuat Meutia malu apalagi menyerah. Semangat Meutia tak diragukan lagi diantara kawan-kawan dan dosennya, beberapa kali ia pernah memperoleh Indeks Prestasi 4. Sosok Meutia yang langka tentu layak menjadi pelajaran bagi banyak orang.




EPISODE 5
"PANTANG MENYERAH"

Sejak usia 5 tahun Habibie Afsyah divonis mengidap Mascular Dhystrophy Progressiva (MDP), satu kelainan yang menyebabkan kelemahan dan tidak berfungsinya seluruh bagian tubuh. Menurut perkiraan dokter pengidap MDP berusia tak lebih dari 30 tahun. Namun perkiraan dari dokter tersebut tak membuat Habibie patah semangat. Habibie yang kini berusia 22 tahun menjalani harinya dengan berprofesi sebagai internet marketer.



Didampingi oleh ibundanya Endang Setyati, Habibie juga menjadi motivator di berbagai acara. Bersama ibundanya pula, mereka berdua bercita-cita mendirikan Yayasan Habibie Afsyah untuk membantu penyadang cacat menemukan rasa percaya diri untuk bangkit, mandiri, dan berprestasi.




EPISODE 6
"MELAGUKAN SEMANGAT"

Bagi Supriyono, pemimpin Orkes Musik Campursari Ringkas, kemandirian seseorang tidak ditentukan oleh kondisi fisik yang dimilikinya. Kemandirian menurut penyandang tuna netra ini ditentukan oleh keberanian seseorang untuk mengalahkan keterbatasan fisiknya. Hal ini pulalah yang dijadikan prinsip Supriyono.



Meski tanpa latar belakang pendidikan khusus, namun kecintaannya pada musik membawa Supriyono memilih panggung hiburan musik campur sari sebagai profesinya. panggung hiburan musik campur sari sebagai profesinya. Sejak tahun 90-an pasang surut usaha telah dilaluinya. Namun ia tak pernah menyerah. Orkes Musik Campursari Ringkas yang dipimpinnya sekarang mampu menghidupi Supriyono dan keluarga, beserta anggota lain yang tergabung di dalamnya.




EPISODE 7
"JANJI PENYANDANG KEBEBASAN"



Tak banyak yang percaya bila penyandang cacat menikah dengan penyandang cacat akan mampu membangun rumah tangga yang mandiri. Demikian pula yang dialami oleh Cucu Saidah dan Faisal Rusdi. Rencana pernikahan mereka yang sama-sama aktivis di Bandung Independent Living Center (Bilic) mendapat banyak tentangan bahkan dari kalangan keluarga. Namun mereka tak mau menyerah. Bagi mereka penentangan dari banyak pihak justru menjadi semangat untuk membuktikan bahwa penyandang cacat juga bisa mewujudkan kehidupan berumah tangga layaknya orang lain.



EPISODE 8
"MELINTASI BATAS NETRA"

Menjadi tuna netra memang berarti tak dapat melihat. Tapi tak dapat melihat bukan berarti semua gelap, semua hitam, dan suram tanpa masa depan. Inilah yang dibuktikan oleh Harry Pattirajawane seorang tuna netra kategori low vision. Menurutnya anak-anak tuna netra atau anak berkebutuhan khusus lainnya belum mendapatkan hak pendidikan secara penuh. . Hal inilah yang mendorongnya menyumbangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya bagi anak-anak tuna netra atau anak berkebutuhan khusus lainnya di SLB A Elsafan Rawamangun, Jakarta.

Tak banyak yang tahu bahwa Harry yang berpenampilan sederhana ini ternyata juga seorang dosen di Program Studi Etnomusicologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta. Melalui profesinya ini ia juga ingin membuktikan, bila penyandang tuna netra mendapat pendidikan yang setara dengan kaum awas, maka penyandang tuna netra juga bisa berprestasi.


EPSIODE 9
"ASA DI ATAS RODA"

Samosir dan Lili merupakan sepasang suami istri penyandang cacat. Dari atas kursi roda, mereka berdua berusaha membuktikan bahwa penyandang cacat mampu mandiri dalam banyak hal. Saat ini, Samosir bekerja membuat kerajinan tangan menyusun gambar-gambar rohani yang berkesan 3 dimensi dan membuat bingkainya. Sedangkan Lili, istrinya, membuat kerajinan tangan semacam cook glove.

Sebuah sepeda motor roda tiga yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, siap mengantar Samosir dan Lili memasarkan hasil karya mereka. sejumlah gereja dan bazaar merupakan tempat yang selalu mereka pilih untuk berdagang. Penghasilan yang diterima dari berdagang, cukup untuk membayar cicilan motor dan kebutuhan hidup sehari-hari Samosir dan Lili. Semangat dan perjuangan mereka menjadi bukti bahwa penyandang cacat juga bisa hidup mandiri.


EPISODE 10
"BISIK CINTA SEORANG IBU"

Semua ibu tentu menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya. Namun, keadaan menjadi tak biasa bila anak yang ada dalam keluarga adalah anak yang berkebutuhan khusus (ABK). Itulah yang Nana alami selama mendampingi putrinya-Rumaisho Az-Zahri atau Roza yang tuna rungu. Kemampuan mendengar Roza 100db atau tuna rungu kategori berat sekali.

Ketika Roza masih bayi, Nana berusaha sendirian mengumpulkan informasi bagaimana membesarkan anak tuna rungu. Setiap pengetahuan yang ia dapat, ia bagi melalui blog, dengan tujuan mulia: agar orangtua yang memiliki anak tuna rungu lain, tidak mengalami kesulitan yang pernah ia alami. Ia juga mendirikan komunitas orangtua anak tuna rungu. Dalam komunitas ini mereka saling menguatkan dan mengundang tuna rungu yang lebih dewasa untuk berbagi cerita bagaimana melewati masa kanak-kanak sebagai tuna rungu. Seperti Vazza, seorang remaja tuna rungu yang saat ini menjadi mahasiswa di 2 universitas negeri di Yogyakarta. Nana juga mengajak para orangtua dan anak tuna rungu untuk mempelajari natural Auditory Oral untuk memaksimalkan kemampuan dengar anak.

Nana bertekad anaknya harus sama seperti anak-anak lain yang mendapatkan pendidikan dan bisa diterima masyarakat. Untuk pendidikan Roza, Nana harus berjuang sekuat tenaga agar Roza diterima di sekolah umum. Penolakan demi penolakan dialaminya. Padahal Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 70 tahun 2009 sudah mengatur bahwa sekolah tidak boleh menolak anak berkebutuhan khusus.


EPISODE 11
"SEMANGAT TAK PERNAH RUNTUH"

Gempa Jogja 2006 sudah lama berlalu. Namun hingga kini bencana tersebut masih menyisakan pelajaran tentang semangat hidup dan semangat berbagi pada sesama. Contohnya adalah cerita mengenai bangkitnya Suparman dan Daliman, orang-orang yang menjadi cacat akibat gempa. Suparman sempat ingin bunuh diri, tapi tekad untuk menjadi kepala keluarga yang baik memulihkan semangatnya.

Mereka bertemu dengan Slamet Tarjono seorang pengusaha mainan edukasi yang juga penyandang cacat. Kegiatan produktif dan berkumpul bersama penyandang cacat lain membuat orang-orang korban gempa ini merasa diri mereka berarti. Mereka juga ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa kaum difabel mampu berkarya dan hidup mandiri.

Saat gempa Jogja 2006, Mandiri Craft nama usaha Slamet Tarjono yang telah dirintis sejak tahun 2003, juga ikut roboh. Namun, ia tak mau berlama-lama menyesali keadaan. Ia bangkit, bahkan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia melatih dan menampung penyandang cacat baru yang merupakan korban gempa. Karyawannya di Mandiri Craft saat ini berjumlah sekitar 40 orang, sebagian besar adalah tuna daksa. Slamet Tarjono yang kehilangan kaki kanannya karena kecelakaan kerja ini bertekad mempekerjakan lebih banyak lagi kaum difabel.


EPISODE 12
"BIARKAN KAMI MEMILIH"

Anak tuna rungu kerap dipaksa berbahasa oral di sekolah bahkan di rumah. Semuanya bertujuan agar si anak terlihat “normal” di masyarakat umum. Padahal, sekuat-kuatnya anak tuna rungu berusaha berbahasa oral, tetap saja terkadang mereka mengucapkan kata dengan tidak tepat, karena mereka sendiri tidak mendengar apa yang mereka katakan

Agustina Prasetyawati merupakan satu contoh tuna rungu yang mengalami pemaksaan penggunaan bahasa oral di sekolahnya. Ia dan teman-temannya secara sembunyi-sembunyi mempelajari bahasa isyarat. Beruntunglah, keluarga Agustina membebaskannya untuk menggunakan bahasa apapun. Agustina pun menemukan caranya sendiri untuk berkomunikasi dengan siapa saja.

Ada banyak pihak yang tak perduli dan ada sedikit pihak yang perduli dengan persoalan pilihan cara berkomunikasi tuna rungu. Sumarsihono, adalah salah satu yang perduli. Ia mengajarkan bahasa isyarat kepada siapa saja. Semua itu dilakukannya demi pemenuhan hak anak tuna rungu untuk bebas memilih bahasanya.

3 comments:

  1. Beberapa hari lalu aku nonton Perlawanan Sang Penghibur... memukau...!!! Four thumbs up buat Bang Limin dan juga tim Refleksi...!!! ^^

    ReplyDelete
  2. orang-orang seperti Limin itulah pejuang sejatinya mbak. kalau kita di refleksi cuma ingin lebih banyak orang melihat semangatnya. mudah-mudahan tertular...:)

    ReplyDelete